Menghadap ke Arah yang Keliru

By J-Philippe

26 July 2026

All the versions of this article:
English français Indonesia

Judul: Menghadap ke Arah yang Keliru.
Spesifikasi : 26 x 18 cm. Watercolor on 300 gr acid free paper.
Tahun: 2026.

Send me an email

Dalam perjalanan dari rumah menuju Kintamani, saya singgah di Tegalalang untuk menikmati secangkir kopi.
Bila ada bentang alam yang diciptakan untuk memikat para pelancong, sawah berundak Tegalalang tentu salah satunya. Orang-orang datang dari berbagai penjuru dunia untuk menyaksikannya. Dengan kuas, cat air, dan buku sketsa di hadapan saya, saya menelusuri lekuk-lekuk teras, lengkung halus pematang, irama pohon-pohon kelapa, serta tak terhitung ragam hijau yang bertumpuk membentuk hamparan kehidupan.
Ketika garis-garis pertama mulai memenuhi halaman, perlahan saya larut ke dalam semesta bentuk dan warna.
Waktu pun mengalir tanpa terasa.
Lalu sesuatu mengusik perhatian saya.

Di beranda kafe sebelah, orang-orang berlalu-lalang dengan membelakangi pemandangan. Tatapan mereka tertuju pada layar-layar kecil yang mereka ulurkan sejauh lengan. Mereka berganti-ganti pose, memasang ekspresi yang kadang terasa ganjil, kadang menggelikan.
Tak lama kemudian saya menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Mereka sedang memotret diri sendiri. Merekalah tokoh utama dalam gambar itu, sementara sawah berundak—yang hampir tak sempat mereka pandangi—hanya menjadi latar yang nyaris tak berarti.
Ada dorongan dalam diri saya untuk berseru:

"Berbaliklah. Yang sesungguhnya layak dilihat ada di sana, tepat di belakang kalian."

Saya menyadari sepenuhnya bahwa manusia mengakrabi dunia melalui gambar dan benda yang mereka ciptakan. Lukisan cat air saya pun bukanlah lanskap itu sendiri, melainkan sebuah tafsir atasnya.

Namun di sanalah letak perbedaannya.

Melukis menuntut waktu, perhatian yang utuh untuk mengenali bentang alam, kesabaran untuk mengikuti aliran warna di ujung kuas, dan kesediaan untuk hadir sepenuhnya di hadapan apa yang sedang dipandang. Sedikit demi sedikit, melalui setiap sapuan warna, sawah-sawah Tegalalang menjadi bagian dari diri saya.

Saya meragukan bahwa ikatan semacam itu dapat dilahirkan oleh sebuah swafoto yang diambil dalam sekejap...

Pada intinya, bagi mereka yang mampu membaca jejak seseorang melalui karya yang diciptakannya, boleh jadi lukisan cat air karya saya lebih menyerupai diri saya daripada sebuah potret diri berlatar pemandangan yang bahkan nyaris tak diberi kesempatan untuk benar-benar diperhatikan selayaknya.

  J-Philippe, Bali Blog Menghadap ke Arah

Our conversation

© Copyright・ 日ごとの福音・一般社団法人 ・2017~2021