Konsep seni DUALITY

J-PHILIPPE mencoba menghapus segala perbedaan yang mengemuka melalui pesan tunggal yang bernama ‘Sih’.

Memasuki lubuk ’haze’ : Laku seni seorang J-PHILIPPE. Oleh Jean Couteau  [1]

Penyunting Warih Wisatsana

Ada kalanya yang mula pertama memikat mata ialah segugusan kabut dan itu membawa kita ke sebuah dunia penuh misteri tak terjelaskan, di mana impian maupun perasaan lebur berbaur. Berikut, setelah tahapan tersebut, tampilah garis-garis yang membentuk sosok-sosok serupa manusia. Segenap unsur nan samar itu kembali undur, sejurus kemudian, kenyataan sosial tentang Bali terlihat mengemuka. Namun di lain momen, yang terjadi justru sebaliknya. Yakni garis-garislah yang lebih awal menarik perhatian mata, segera disusul adegan keseharian sosial Bali, lalu pandangan kita pun hanyut terbawa ke suatu penampakan tak berwujud (kegaiban) yang penuh genangan bayang impian dan perasaan.

Karya-karya J-PHILIPPE, pelukis muda yang berpameran di galeri ..antara tanggal 26 Februari 2009 dan 11 Maret 2009 …, tak ayal lagi adalah ajakan untuk memandang realita dengan cara yang berbeda.

Di dalam sejarah seni rupa figurasi, realita sosial biasanya dihadirkan melalui salah satu dari dua cara berikut ini: penekanan pada segi sosial dari adegan terpilih, semisal yang ditampilkan oleh aliran Realis Perancis pertengahan abad ke-19, atau, hadir dengan mengedepankan perubahan melalui deformasi/aksentuasi bentuk dari elemen representasi yang bersangkutan. Pendekatan yang terakhir ini kerap menjadi pilihan kaum ekspresionis klasik. Akan tetapi Jean-Philippe punya perbedaan dari kedua pendekatan tersebut. Walau pada galibnya ia tetap setia pada dunia ‘real’—figur-figur manusia yang merupakan duplikasi dari foto-foto—terbukti dimodifikasi melalui dua cara tersendiri. Cara pertama, yang relatif jarang digunakan, ialah dengan sengaja menciptakan ruang kosong dari unsur-unsur tertentu yang berasal dari gambar asal (foto). Melalui cara ini sebenarnya ia tengah mendorong kita untuk membayangkan dan mereka-reka bagaimana sesungguhnya adegan itu. Cara yang kedua, sebagaimana dipaparkan pada awal tulisan ini, ialah dirinya dengan sengaja menciptakan suasana ‘haze’ (kesamaran), demi menyiratkan bahwa ‘realita’ sesungguhnya bukanlah realita yang kasat mata—artinya suatu penegasan bahwa ada beragam tafsir atau bacaan kemungkinan pada apa yang disebut realita. Jadi, dengan mengkondisikan karyanya seolah-olah ‘bertukar ruang dan waktu’ sedemikian rupa antara kedua kutub ‘haze’ dan ‘realita’, J-PHILIPPE agaknya tengah menegaskan kepada kita bahwa persepsi bukanlah sesuatu yang ada secara tetap, dan bahwa ekspresi seni hendaknya kuasa menerjemahkan dinamika perubahan dari persepsi yang pada dasarnya memang tak stabil tersebut.

Tentu sah saja—bahkan ini adalah hal yang menarik—membuat tafsir sosial atas karya-karya J-PHILIPPE serta melihatnya sebagai suatu wacana sosial mengenai kondisi wanita Bali. Melalui figur-figur ia seakan tengah menunjukkan kepada kita adanya dua kecenderungan pengelompokan yang bertolak belakang satu sama lainnya. Sebagian digambarkan berpakaian agung ala Bali dengan segenap kemeriahannya, dengan aura kecantikan yang memancar penuh kemurnian dan kepolosan. Wanita-wanita tersebut terlihat tengah memandang kejauhan, solah terbawa renungan, atau suatu impian penuh rahasia pribadi sebagaimana lazimnya para dara yang tengah tumbuh jelita. Di sisi lain, kelompok kedua, justru ditampilkan sebaliknya. Berpakaian ala pekerja kasar dari kampung, mereka tampak tua, berkeriput serta buruk rupa. Jelaslah bahwa wanita-wanita pedusunan itu tak memiliki waktu, renungan dan bahkan impian tentang rahasia-rahasia terpendam, yang boleh jadi memang tak dimilikinya. Bagi mereka, kecantikan dan kefeminiman adalah sesuatu yang seolah tak nyata, terlupakan dan terbawa oleh keseharian penuh kerja juga derita. Di mata J-PHILIPPE, kedua tipe di atas ini mencerminkan dua sisi kewanitaan di Bali yang kenyataan sosialnya bertolak belakang satu sama lain.

Patut dikemukakan, dalam intepretasi sosial atas karya-karyanya, tidaklah ditemukan suatu stereotip-stereotip tentang wanita sebagaimana suguhan topik para seniman Barat yang mencoba melukis tentang Bali. Betapapun cantiknya wanita Bali yang digambarkan J-PHILIPPE tersebut, tak diketemukan di dalamnya suatu siratan kevulgaran ‘seks’. Sebaliknya, bila mereka hadir nyata di dalam kanvas, ialah lantaran segi kemurnian dari seorang dara yang polos. Mereka bukanlah ‘mangsa’, tentulah Jean-Philippe sendiri bukan tipe predator. Yang ia sikapi dari wanita-wanita itu hanyalah sebentuk ‘kecantikan’, keindahan dan bukan suatu perbedaan eksotis yang entah bagaimana bisa menjadikan mereka ‘sajian’ seksual, atau/sasaran fantasi kevulgaran birahi. Sikap pelukis dalam konteks ini adalah sehat dan ‘bermoral’ dibandingkan sikap kebanyakan seniman-seniman Barat pendahulunya. Bagi J-PHILIPPE, janganlah ‘kecantikan’ dan ‘keindahan’ membatasi kita dalam melihat sosok wanita Bali selaku manusia seutuhnya, sebagai pribadi yang seyogyanya diakrabi dengan empati.

J-PHILIPPE, selain bebas dari stereotip Barat sewaktu melukiskan wanita Bali ia juga bebas dari kungkungan stereotip norma-norma budaya. Ketika ia mengekspresikan tipe wanita Bali kedua yang buruk rupa, tua dan pekerja keras, sang pelukis nyatalah tak sedang memposisikan diri sebagai ‘moralis’, yang dengan lantang menyatakan protes atas pembiaran wanita-wanita untuk melakukan pekerjaan fisik yang keras seperti lazimnya di Bali. Di sudut pandangnya, keburuk-rupaan tak harus dianggap bertolak belakang dari kecantikan, juga tak boleh menghalangi kita untuk melihat wanita, sedini pertama, sebagai manusia.

Dengan kata lain, salah satu ciri utama pendekatan seni ala J-PHILIPPE perihal posisi wanita Bali ialah sama sekali jauh dari prasangka apapun, baik warisan kolonial maupun post-kolonial. Agaknya, melalui cara itu, ia hendak menyampaikan kepada kita: boleh jadi wanita Bali cantik, akan tetapi tak berarti orang Barat atau siapapun, boleh ‘melihat’ dan memperlakukan mereka sebagai obyek eksotis nan seksual dengan dalih bahwa sikap kolonial menkonstruksikan mereka sebagai ‘berbeda’. Demikian pula bisa saja wanita Bali dibebani oleh tradisi untuk bekerja lebih berat daripada sepatutnya. Tetapi hal ini tidak lantas menyebabkan siapapun, apakah atas nama ke-adab-an ataupun dalih lainnya untuk menggurui mereka dan orang Bali umumnya. Tampaknya, sang pelukis tengah menjelaskan kepada kita bahwa masyarakat-masyarakat tersusun dari individu-individu ‘real’ yang sikap dan nilainya layak dihormati atas dasar kesamaan martabat. Lebih-lebih, J-PHILIPPE agaknya menyiratkan sesuatu yang lebih jauh lagi: empati yang khusus olehnya diterjemahkan sebagai ‘sih’ dalam artian Kristiani, hendaknya merupakan satu-satunya cara yang dipakai guna menghadapi isu-isu sosial-kultural seperti itu—di mana latar kultural masing-masing pihak sungguh memang sesuatu yang nyata beda.

Memanglah sesuatu yang khas kristiani di dalam cara J-PHILIPPE bersikap dan menyikapi sesuatu. Tentu bukan suatu Kristiani di dalam artian kultural umum yang nan tak terjelaskan itu, melainkan sebentuk Kristiani yang merupakan acuan inspiratif bagi kehidupan sehari-hari. Harus digarisbawahi di sini bahwa, ketika pertama kali datang ke Indonesia, tujuan J-PHILIPPE bukanlah ‘bekerja’ sebagaimana dalam pengertian umumnya, selaku lulusan sekolah keterampilan seni tersohor Boulle, melainkan untuk mengabdi sebagai pemuda Katolik yang dipercaya mengelola peningkatan keterampilan suatu sekolah kerajinan seni milik gereja Katolik di Gianyar. Maka, berbeda dengan kebanyakan ekspatriat Barat yang datang ke Indonesia sekadar bertualang atau mencari uang, ia memang bertujuan untuk suatu pengabdian. Bermukim di sebuah dusun kecil desa Mas, Ubud, ia menyaksikan orang Indonesia dan Bali yang hidup di sekelilingnya sebagai ‘Indonesia’ dan ‘Bali’, terutama di dalam perbedaannya, tetapi sebagai sesama umat manusia yang di mana dalam keseharian berbagi suatu kenyataan hidup yang sederhana yang penuh diliputi dengan nilai-nilai keagamaan.

Hingga dalam pemaparan inilah, unsur ‘haze’ kembali menjadi relevan. J-PHILIPPE sebenarnya selalu mengawali karyanya, dengan pertama-tama menorehkan bintik-bintik dan sapuan warna beise serta cokelat muda—yang saya cirikan di atas sebagai ‘haze’. Dengan teknik ini, ia kuasa menghadirkan suasana yang meminimalisir segi realisme gambar asli seraya membawa kita untuk melampauinya. Lebih jauh, ‘haze’ itu dapat dikatakan tiada lain adalah wujud ungkapan seni yang ditorehkan oleh sang seniman kepada segala di luar pengertian, yang sesungguhnya tersimpan di kedalaman kalbu masing-masing sebagai suatu ungkapan keterasingan sesama kita masing-masing. ‘Haze’ itu dapat juga, secara lebih konkrit, dianggap sebagai impian para penari atau para wanita tua yang tampil di kanvasnya. Akan tetapi, pada tataran lebih dalam, tak ayal lagi ‘haze’ itu adalah suatu hakikat kelampauan yang terkait dengan keterasingan berwujud impian dan derita yang senantiasa dialami oleh manusia sewaktu berhadapan dengan ‘misteri hidup’ dan diam-diam sering mendorong kita untuk bermeditasi dan/atau bersembahyang.

Maka, bila menyimak karya J-PHILIPPE, ikutilah panggilannya: pertama-tama bayangkanlah kenyataan apa yang telah dilihatnya sebelum memulai melukis. Lalu beralihlah ke apa yang telah dirasakan olehnya, dan akhirnya cobalah hayati apa yang menjadi keyakinannya, masuklah lebih dalam ke lubuk ‘haze’-nya, di mana sang kreator mencoba menghapus segala perbedaan yang mengemuka melalui pesan tunggal yang bernama ‘Sih’.

Penulis: : J-Philippe・ Jumat 27 Februari 2009・ pas de commentaires